Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Maret 2018

Film Tanah Boreo (Batas)

Batas (sumber : wikipedia)


Judul          : Tanah Borneo (Batas)
Penulis       : Slamet Rahardjo
Sutradara   : Rudi Soedjarwo
Produser    : Marcella Zalianty
Pemeran    : Marcella Zalianty, Arifin Putra, Ardina Rasti, Jajang C Noer, Pier Pagau, Marcell Domits, Alifyandra, Otig Pakis, Tetty Liz Indriati
FILM TANAH BORNEO (Batas)
                      Rilis pada tahun 2011, film yang dimainkan oleh Marcella Zalianty ini memiliki tema tentang kehidupan tanah batas, yaitu menceritakan bagaimana kehidupan masyarakat terpencil di wilayah perbatasan. Dengan berlatar belakang di desa Entikong, salah satu desa di pedalaman Kalimantan. Film ini menceritakan tentang pendidikan dan kehidupan yang ada di pedalaman Kalimantan. Dengan durasi sekitar 115 menit, film Tanah Borneo (Batas) dikemas dengan bahasa Indonesia Baku dan sedikit ‘bumbu’ bahasa Daerah setempat. Berikut adalah unsur intrinsik dari film Tanah Borneo :
  • Tema : Kehidupan tanah batas
  • Tokoh : Jaleswari (Marcella Zalianty), Ubuh (Ardina Rasti), Nawara (Jajang C Noer), Panglima Dayak (Pier Pagau), Adeus (Marcell Domits), Borneo (Alifyandra), Otig (Otig Pakis).
  • Latar tempat : desa Entikong, Jakarta, rumah, sungai, sekolah, jalanan, hutan, kantor.
  • Alur : campur (maju-mundur).
  • Gaya bahasa : Bahasa Indonesia baku dan Bahasa Dayak.

                      Dari film berjudul Tanah Borneo ini, terdapat banyak hal yang dapat diambil serta dijadikan pengajaran, seperti berikut
  1. Jangan jadikan kesedihan dan keterpurukan sebagai akhir kehidupan.
  2. Dengan adanya tekad yang kuat, keinginan dapat menjadi kenyataan bahkan saat keadaan tidak mendukung kita.
  3.  Setiap orang memiliki pola pikir yang berbeda. Hargai, hormati dan pahami setiap perbedaan itu.


Kamis, 01 Februari 2018

[BUKU] A Diary Of Hee Ah Lee : A Four-Fingered Pianist Vol 1

   
     Sesuai dengan judulnya, buku harian Lee Hee Ah, seorang pianis berjari empat. Buku yang berasal dari catatan harian Lee Hee Ah ini mengulas kisah kehidupan Hee Ah dari awal hingga menjadi seorang pianis terkenal. Di dalam buku ini terdapat banyak pengajaran hidup yang diambil dari hidup seorang Lee Hee Ah. Beberapa pengajaran hidup yang dapat diambil tertuang dalam 3 poin, yaitu sebagai berikut :

Baca juga : Masa Remaja Hee Ah Vol 2 (Sumber : Vellen's blog)

1. Jangan Pesimis
     Di dalam hidup, banyak sekali kesulitan yang terjadi. Terkadang, kesulitan yang kita alami dapat membuat kita suatu waktu menyerah dengan impian kita. Oleh karena itu, jangan menjadi pesimis dan cobalah untuk semangat meraih impian kita.
“selama kita hidup, kesulitan yang kita alami silih berganti dan seringkali membuat kita pesimis untuk meraih apa yang kita inginkan. Tapi, meskipun sedih dan susah, cobalah kuat dalam menghadapinya, seperti Hee Ah” – Cerita Singkat Untuk Mengenal Hee Ah (halaman 6)
2. Tuhan itu adil, mengucap syukurlah!
     Dalam menjalani hari demi hari dalam kehidupan ini, kita terkadang mengeluh untuk hal kecil dan berkata Tuhan itu tidak adil. Tapi ketahuilah, Tuhan itu mengasihi semua orang. Di balik segala kekurangan kita, Tuhan memberikan banyak talenta dan kelebihan untuk kita agar dapat melengkapi kekurangan kita. Oleh karena itu, jangan kita mengeluh dan bersyukurlah!
“...dia selalu mengatakan kalau Tuhan itu mengasihi semua orang. Tidak membeda-bedakan. Kalau Dia memberikan tubuh yang cacat pada kita, Dia pasti memberikan kelebihan. Apapun itu, terimalah dengan mengucap syukur...” – Ibu, Aku dan Sekolah Hari Ini (halaman 44)
3.  Cacat atau tidak, tidaklah penting
    Jangan menilai buku dari covernya. Terkadang, apa yang terlihat sempurna belum tentulah bagus. Tapi, apa yang terlihat tidak sempurna belum tentu jelek. Normal atau catat fisik seseorang tidaklah penting. Tapi, kejujuran dan kebaikannya itulah yang terpenting. Tidak ada gunanya jika kau memiliki fisiki normal sempurna tapi nol besar untuk kejujuran dan kebaikan hatimu.
“Yang terpenting bukanlah seseorang itu cacat atau tidak cacat, melainkan kejujuran dan kebaikannya” – Arti Nama Hee Ah (halaman 171)
Itulah tiga pengajaran dari sekian banyak pengajaran yang dapat diambil dari buku "A Diary Of Hee Ah Lee : A Four-Fingered Pianist Vol 1". Semoga resensi yang saya buat dapat bermanfaat dan memotivasi pembaca. Terima kasih.

#POPULER